“ Hidup Dalam Satu Cahaya “
Pagi tiada berarti lagi dalam suatu kehidupan. Satu
takdir yang menyelimuti akan masa depan. Semua mimpi-mimpi kehidupan kini
terkoyak remuk dalam keadaan. Silir angin berganti menggerakkan rerumputan.
Gelap melanda menemani suatu keadaan. Kini tinggal angan-angan dalam benak
kehidupan. Yang usai sudah untuk di harapkan.
Rembulan pergi digantikan mentari. Awal pagi
membangkitkan semangat kembali anak lelaki. Hari yang beda tidak seperti dulu
lagi, kini harus ia jalani dengan penuh keikhlasan hati. Ia hanya berharap
untuk dapat menitih hari-hari dengan batin yang semakin membebani. Dapat ia
pikul seorang diri dengan menegarkan perasaannya. Terus tersenyum di setiap
orang menghampiri. Selalu menutupi kekurangannya demi perasaan kelurganya.
Terutama hati bunda yang selalu ia pikirkan, ia jaga rapat-rapat agar tidak
menjadi beban hidupnya. Karena baginya tiada yang indah selain melihat bunda
tersenyum setiap hari. Meski ia belum dapat membahagiakan, memberikan suatu harapan
kepada bundanya.
Hari demi hari ia jalani dengan penuh keyakinan hati.
Yang dulunya bingung harus bagai mana dengan kekurangannya. Kini dengan melihat
kondisi bundanya ia semangat kembali. Bangkit dari suatu keterpurukannya.
Karena terselip batin hatinya yang melihat orang tuanya bekerja keras demi
anak-anaknya, maka ia pun tergerak hatinya. Untuk sebisa mungkin ia membantu
ekonomi orangtuanya.
Ia terlahir dari orang yang tak mampu. Orang yang tak
punya apa-apa. Hanya bersyukur yang selalu ia terima. Demi menyambung hidupnya.
Ia pasrahkan kepada sang pemberi kenikmatan. Hidup susah sudah menjadi bagian
dari sejarah hidupnya. Yang tentunya tidak akan terlupakan olehnya.
Awal keluarganya terbentuk berawal dari ketidak sengajaan
bertemunya bunda dengan ayahnya. Pada waktu itu bunda yang baru beranjak dewasa
mencoba menaruh nasib ke ibu kota. Ia bekerja pada suatu perumahan di daerah
gang suasembada timur, Jakarta utara. Dengan seperti biasanya, pada setiap
malam minggu ia berkunjung ke warung makan. Dimana warung makan itu masih
saudaraan dengan nya. Katika sedang berkunjung dengan tanpa di sengaja
bertemulah dengan seorang lelaki tampan, hitam manis. Dari pertemuan itu
kemudian mereka kenalan-kenalan. Pada suatu ketika dengan seperti biasanya. Ia
sedang berkunjung kembali di rumah makan. Dan ketika hendak kembali ke rumah
majikannya, hujan turun dengan lebatnya. Kemudian ia di anterl dengan
membonceng berduaan di derasnya hujan malam. Menggunakan sepeda ontel yang
biasa buat ayah bekerja dan di temani satu payung berduaan. Itu menjadi suatu
kenangan terindah dan Ia jadikan memori kenangan terindah di masa berduaannya.
Hari berlalu menyisakan syahdu nya rindu ketika besama ketika itu. Kini angin
badai menerpa, menlemahkan akarnya cinta kepadanya. Bunda yang sudah menaruh
rasa hati kepadanya, seakan pudar di buatnya karena orang ketiga hadir di
tengah-tengah mekarnya cinta. Ia suka kepada ayah dan bundapun mencoba
mengalah. Mengkuncupkan cinta buatnya. Namun tuhan berkehendak lain, meski
rintangan meng hadang, dapat ia lalui bersama. Hingga pada suatu hari ayah
meminjam uang ke bunda 75.000,- untuk membayar kontrakan. Pada waktu itu tahun
1992 dimana orang bekerjapun gajiannya masih murah, sekitar 25.000,-. Jadi ayah
meminjam uang segituhpun sudah termasuk banyak banget. Karena sudah beberapa
bulan ayah tidak membayar uang kontrakan.
Selang beberapa hari dari ayah meminjam uang ke bunda. Ia
terserang demam panas dingin. Ketika itu bunda juga hendak pulang ke kampung
kemudian berpamitan kepadanya. Namun bunda terkejut ketika mebuka pintu
kontrakan, melihat ia tergeletak tidak bisa apa-apa selain menggigil
kedinginan. Tanpa pikir panjang bunda pun langsung mananyai, dan berusaha
mengobati. Dengan mengerokkan punggungnya dan meminumkan obat kepadanya.
Melihat ayah sedang sakit, bundapun mengurungkan niat pulangnya waktu itu. Dan
menundaya di keesokan harinya. Keesokan harinya ayah sudah mendingan dari
demamnya, dan bunda pamit pulang kembali. Namun tanpa di duga, ayah ingin ikut
pulang bareng bersamanya. Bunda pun kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa.
Tapi karena ayah terus mendesak kepadanya, lalu ia pun meng iya kan. Hari itu
pula ia berdua pulang bersama, dan sampai di rumah ayah pada malam hari. Mau
tidak mau bundapun menginap di rumahnya dan keesokan harinya pulang ke rumah
bunda. Di sini awal kejadian bunda dan ayah menikah tanpa restu orang tua ayah
sebelumnya. Yaitu ketika bunda pulang ke rumah, ayah di marahin oleh ibunya
dengan menuduh bunda yang tidak-tidak. Melihat dan mendengar itu, ayah pun
segera menyusul bunda pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumahnya bunda, ayah
langsung bilang dan mengajak bunda untuk segera menikah. Bunda yang tidak tahu
apa-apa, di ajak menikahpun masih bingung terpaku mendengarnya. Tapi karena
desakan dan penjelasan ayah terhadapnya ia pun menurutinya. Dan mereka berdua
pun kemudian menikah, menjalani kehidupan baru. Dimana kehidupan yang selalu
bersama-sama di setiap waktu.
Dari
semua kejadian itulah menjadikan suatu sejarah baru bagi kehidupan keluarga
ini. Dan lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng dalam keluarga ini. Dimana itu
semua menjadi bunga dalam rumah tangganya dan penyemangat dalam mencari
rezekinya.
Ia
terlahir dengan penuh keharuan, penuh ke bahagiaan bagi keluarganya. Sesosok
bayi mungil ganteng, putih imut, dan sehat. Telah di beri nama olehnya, nama
itu pemberian dari kakeknya yang tuna netra karena kecelakaan. Dan itu menjadi
harta terindah pemberian kakeknya kepadanya. Irfan, itulah nama
panggilan kakeknya yang setiap saat menimangnya. Dengan penuh kasih sayang dan
kegembiraan, kakeknya berharap untuk bisa merasakan kebersamaannya setiap waktu
hingga kelak irfan dewasananti. Mohamad Irfan, nama yang bagus untuk
seorang bayi laki-laki. Nama itu ia usungkan karena berharap kelak suatu hari
nanti irfan bisa jadi orang yang baik, baik akhlaknya, fisiknya, dan imannya,
seperti pada Muhammad nabi terahir, dan penutup akhir zaman kenabian. Di
tengah-tengah kebahagiaannya itu, yang berharap akan selalu berada di
dekapannya. Meski ia tidak dapat melihatnya. Tuhan berkehendak lain, ia di
panggil, menghadap sang kuasa illahi. Ia wafat setelah lima bulan bersama
cucunya. Bayi mungil yang sedang lucu-lucunya itu. Apa dikata.? Ketika tuhan
sudah berkehendak pastilah terjadi. Sama halnya ia berharap untuk selalu bisa
menimang cucunya. Ketika tuhan menjemputnya pastilah menghadap kepadanya. Tidak
bisa berbuat pa-apa.
Hari
berlalu terasa begituh cepat. Irfan yang dulunya kecil kini beranjak dewasa.
Hari silir berganti membawa masa lalu yang indah. Masa kecil yang tidak
mengenal lelah. Masa yang penuh pembelajaran demi masa yang akan datang. Masa
yang sempurna bagi seorang balita dalam mengenal dunia. Rasa penasaran selalu
ia ekspresikan dalam mengenal suatu benda. Dengan berbagai cara ia upayakan
untuk dapat mengertikan benda apa itu. Seakan ia bertanya kepada dunia apa yang
tidak ia ngertikan. Ia ingin mengetahuinya.
Pada
suatu ketika dimana ia sedang belajar begituh banyak hal yang ingin ia
mengertikan. Ia merangkak di tanah, di halaman rumahnya. Sama seperti pada
balita umumnya yang sedang belajar berjalan yang di awali dengan merangkak
terlebih dahulu. Ia merangkak kesana kemari bermaenan tanah yang selalu ia
ambil dan di genggam erat-erat. Yang seakan-akan bertanya benda apakah ini.? Pada
waktu bersamaan, di halaman rumah ada sebuah kandang ayam. Dimana kandang itu
ada ayamnya, ayam yang baru menetaskan anak-anaknya. Iapun kemudian merangkak
menghampiri kandang itu. Tertarik dengan suara dan imutnya anak ayam itu. Ia
penasaran akan benda apa lagi yang di lihatnya. Pada waktu yang bersamaan bunda
yang tadinya mendampingi kini pergi mengambil mangkouk untuk tempat bubur yang
ia beli tadi. Ketika itu pula musibah datang menimpa dirinya. Ia terpatuk oleh
induk anak ayam itu, di bagian matanya yang sebelah kiri. Seketika darah
bercucuran keluar dari matanya. Dan iapun menangis kesakitan. Bunda yang
mendengar suara anaknya menangis, dengan bergegas keluar dari dalam rumah.
Menuju ke posisi keberadaannya irfan. Dengan hati cemas dan kaget ia melihat
anaknya sekujur tubuh sudah di lumuri darah, menjadi shok berat dan menangis
ketika melihatnya. Bingung harus berbuat apa, bundapun berteriak minta tolong.
Seketika itu pula tetangga-tetangganya menghampiri. Dan terkejut melihat irfan
sudah dalam kondisi lemas. Lalu segeralah ia di bawa ke rumah sakit, segera
meminta penanganan kepada dokter. Semua orang yang melihat itu pada cemas,
terutama bundanya. Pada waktu itu ayahnya sedang bekerja di ibu kota. Sehingga
tidk mengetahui langsung soal musibah yang menimpa irfan anak semata wayang
nya. Setelah beberapa menit kemudian dokter yang menanganinya keluar dari ruang
IGD. Secara sepontanpun bunda langsung melontarkan pertanyaan tentang kondisi
anaknya. “Anak saya bagaimna Dok, keadaannya,? Dia baik-baik sajakan Dok,?”
Doter pun dengan nada syukur rendahnya mengucapkan, “ Alhamdulilah anak ibu
baik-baik saja, tepat waktu untuk di tanganinya sehingga bisa kita cegah segera
hal yang tidak kita harapkan, ia sebentar lagi juga akan terbangun. Namun
kemungkinan besar ia akan mengalami kebutaan atau Min, di penglihatannya bu.
Tapi insha allah akan baik-baik saja bu. Tinggal banyak berdo’a saja supaya ia
bisa cepat pulih kembali dan tidak cacat dalaam penglihatannya bu.! ”.
Melihat
kejadian itu bunda menjadi terpukul atas apa yang menimpa pada anaknya. Hanya
berdoa, bersyukur dan berserah diri kepada sang pencipta ia pasrahkan semua
itu. Yang menjadi telah menimpa kepada anaknya. Hari demi hari berlalu bagai
air turun dari hilir ke hulu. Penuh halangan rintangan yang di lalui. Kini
irfan sudah sembuh dari musibah yang menimpanya. Beranjak dewasa sudah irfan
mengarungi kehidupan yang penuh dengan cobaan. Enam tahun berlalu dari kejadian
itu. Sekarang irfan menempuh pendidikan dasar. Dari yang sebelumnya ia sudah
mengikuti pembelajan taman kanak-kanak. Kini melangkah sudah menuju ke jenjang
yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Disaat
irfan memulai pendidikannya di sekolah dasar. Faktor ekonomi melanda
keluarganya yang menghanyutkan kedua orang tuanya ke perantauan mengais rezeki.
Dari yang sebelumnya ketika 3 tahun yang lalu irfan di beri kesenangan yaitu
seorang adik. Adik perempuan yang jelita. Istiqomah namanya, sering ia
memanggilnya Atiq. Atik ikut bersama kedua orang tuanya merantau ke ibu kota.
Sehingga irfan di tinggal sendirian di rumah. Irfan di titipkan kepada neneknya
di kampung.
Siang
berganti malam, mentari berganti rembulan, berlalu begituh cepat. Tanpa di rasa
empat tahun sudah ia hidup bersama neneknya. Suka duka ia lalui dengan
kesenangan, kesenangan akan suatu beban kehidupan yang jauh dari kedua orang
tua. Sebisa mungkin ia urungkan bahkan tak meresponnya rasa hati yang seketika
menyelimuti, merindukan akan belaian seorang bunda. Ketika ia melihat teman
sebayanya merengik manja kepada bundanya, di belai, di sayang dengan senyuman
lembutnya. Hanya tetesan air mata yang irfan ungkapkan. Tidak tahu harus
bagaimana, hanya mimpi belaka ia merasakan. Ketika itu pula ia mencoba tabah
mengusapkan air matanya yang deras mengalir di pipinya. Mencoba terseyum
menanggapinya meski hati tak dapat di bohongi.
Hingga
pada suatu ketika, ada pengumuman atas hasil akhir belajar semester pertamanya.
Ketika itu satu sekolah di umumkan bahwa besok pengambilan Raport hasil
ujiannya. Dan yang wajib mengambil orang tuanya. Benak pikiran irfan akan semua
itu membuatnya kebingungan harus bagaimana. Sedangkan waktunya pengambilannya
besok. Bingung akan semua itu membuat irfan terus bersedih bingung mau berbuat apa. Orang tua
jauh di luar kota, mengambil sendiri tidak boleh. Lalu dengan hati yang seddih
ia beranikan bilang ke neneknya untuk mengambilkan raportnya. Meski sudah
berfikir berulang kali akan kasihan untuk menyuruh neneknya, tapi mau bagai
mana lagi. Hanya itu yang ia bisa. Namun dengan rasa syukurnya ketika neneknya
mau mengambilkan raportnya. Dan kebahagiaan pula menghampiri bahwa ia masuk
dalam 4 besar di kelasnya. Itu sudah termasuk hal yang membahagiakan bagi
irfan, karena selain jadi obat semua kesedihannya itu pula menjadi
kebanggaannya karena bisa masuk dalam 4 besar. Karena teman-teman yang lainnya
pada pandai-pandai semua. Maka ia beruntung bisa mengalahkan teman di bawahnya,
meski di peringkat atasnya masih ada.
Namun
kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena beberapa hari dari kabar gembira
itu. Irfan terkena musibah lagi. Hampir sama dengan waktu balitanya. Tetapi
musibah ini karena temannya sendiri. Yaitu matanya kepukul oleh temannya di
bagian kiri. Hingga memar lebam biru karena sakin kerasnya pukulan yang kena
oleh temannya. Dengan tanpa di rencanakan juga pas kebenaran yang ke pukul
sebelah kiri. Dimana mata sebelah kirinya dulnya habis kecelakaan. Sehingga
menambah parah mata yang sebelak diri. Dan berakibatkan mengalami kebutaan
permanen serta yang sebelah kana mengalami keburaman penglihatan atau Min.
Dari
semenjak itulah hidup irfan seakan tiadak berarti lagi. Bingung, sedih, amat
menyesal ketika baru menjalani kehidupan dengan satu mata yang buram
pandangannya. Dari yang dulunya melihat dunia dengan dua mata yang sehat. Kini
hanya tinggal kenangan yang amat dalam. Kenangan yang tidak mungkin lagi bisa
di rasakan. Merasakan kehidupan dengan kenyamanan akan fisik yang tidak cacat.
Kebahagiaan akan tiada keterbatasan. Kini semuanya sirna sudah tinggal kenangan
masa silam. Mustahil untuk bisa menikmati keindahan dunia dengan tanpa
keterbatasan. Yang kini hilang sudah, hingga tak bisa membayangkan bagaimana
rasanya melihat tanpa keterbatasan.
Semua
itu hanya penyesalan sia-sia jikalau terus ia pikirkan. Tinggal harapan yang
akan datang, untuk tidak mengambil satu cahaya kehidupan yang tersisa itu.
Hanya itu yang kini ia jadikan tumpuan semangat hidup. Untuk masa depan yang
akan datang. Dan hanya do’a yang terus ia panjatkan, akan karunia tuhan atas
pemberian cobaan hidup yang membuatnya menjadi lebih tegar, terus bersyukur,
terus istighfar, dan terus berdoa meminta jalan kabaikan serta kemudahan di
masa yang akan datang.
“
Mengambil hikmah dalam kisah kehidupan ku, untuk tetap bersyukur atas yang tuhan
berikan kepadaku. Satu pesan atas kisah ini untuk kalian. Sayangi, hargai,
gunakan, kesehatanmu dengan sebaik mungkin. Tetap bersyukur, tabah, berdo’a,
dan serah diri kepada sang pencipta. Akan semua cobaan yang melanda diri
kalian…”
Terimakasih
Telah Membaca Kisah Ku,,,,
Karya
Ku : M.Irfan Efendy
SELESAI…..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar