Tiada kata yang indah Selain kata syukur, Maka syukurilah apa yang ada, karena syukur merupakan salah satu bentuk menikmati pemberian tuhan, Pemberian Tuhan lebih baik dari yang lain, Serta tabahkan hati kita dalam menghadapi berbagai cobaan, By; Irfan Efendy

Jumat, 14 Oktober 2016

*" Hidup Dalam Satu Cahaya, Satu Kisah Hidup Yang Lara, Yang Selalu Bersama Hingga Akhir Hayat. "*



“ Hidup Dalam Satu Cahaya “

            Pagi tiada berarti lagi dalam suatu kehidupan. Satu takdir yang menyelimuti akan masa depan. Semua mimpi-mimpi kehidupan kini terkoyak remuk dalam keadaan. Silir angin berganti menggerakkan rerumputan. Gelap melanda menemani suatu keadaan. Kini tinggal angan-angan dalam benak kehidupan. Yang usai sudah untuk di harapkan.
            Rembulan pergi digantikan mentari. Awal pagi membangkitkan semangat kembali anak lelaki. Hari yang beda tidak seperti dulu lagi, kini harus ia jalani dengan penuh keikhlasan hati. Ia hanya berharap untuk dapat menitih hari-hari dengan batin yang semakin membebani. Dapat ia pikul seorang diri dengan menegarkan perasaannya. Terus tersenyum di setiap orang menghampiri. Selalu menutupi kekurangannya demi perasaan kelurganya. Terutama hati bunda yang selalu ia pikirkan, ia jaga rapat-rapat agar tidak menjadi beban hidupnya. Karena baginya tiada yang indah selain melihat bunda tersenyum setiap hari. Meski ia belum dapat membahagiakan, memberikan suatu harapan kepada bundanya.
            Hari demi hari ia jalani dengan penuh keyakinan hati. Yang dulunya bingung harus bagai mana dengan kekurangannya. Kini dengan melihat kondisi bundanya ia semangat kembali. Bangkit dari suatu keterpurukannya. Karena terselip batin hatinya yang melihat orang tuanya bekerja keras demi anak-anaknya, maka ia pun tergerak hatinya. Untuk sebisa mungkin ia membantu ekonomi orangtuanya.
            Ia terlahir dari orang yang tak mampu. Orang yang tak punya apa-apa. Hanya bersyukur yang selalu ia terima. Demi menyambung hidupnya. Ia pasrahkan kepada sang pemberi kenikmatan. Hidup susah sudah menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Yang tentunya tidak akan terlupakan olehnya.
            Awal keluarganya terbentuk berawal dari ketidak sengajaan bertemunya bunda dengan ayahnya. Pada waktu itu bunda yang baru beranjak dewasa mencoba menaruh nasib ke ibu kota. Ia bekerja pada suatu perumahan di daerah gang suasembada timur, Jakarta utara. Dengan seperti biasanya, pada setiap malam minggu ia berkunjung ke warung makan. Dimana warung makan itu masih saudaraan dengan nya. Katika sedang berkunjung dengan tanpa di sengaja bertemulah dengan seorang lelaki tampan, hitam manis. Dari pertemuan itu kemudian mereka kenalan-kenalan. Pada suatu ketika dengan seperti biasanya. Ia sedang berkunjung kembali di rumah makan. Dan ketika hendak kembali ke rumah majikannya, hujan turun dengan lebatnya. Kemudian ia di anterl dengan membonceng berduaan di derasnya hujan malam. Menggunakan sepeda ontel yang biasa buat ayah bekerja dan di temani satu payung berduaan. Itu menjadi suatu kenangan terindah dan Ia jadikan memori kenangan terindah di masa berduaannya. Hari berlalu menyisakan syahdu nya rindu ketika besama ketika itu. Kini angin badai menerpa, menlemahkan akarnya cinta kepadanya. Bunda yang sudah menaruh rasa hati kepadanya, seakan pudar di buatnya karena orang ketiga hadir di tengah-tengah mekarnya cinta. Ia suka kepada ayah dan bundapun mencoba mengalah. Mengkuncupkan cinta buatnya. Namun tuhan berkehendak lain, meski rintangan meng hadang, dapat ia lalui bersama. Hingga pada suatu hari ayah meminjam uang ke bunda 75.000,- untuk membayar kontrakan. Pada waktu itu tahun 1992 dimana orang bekerjapun gajiannya masih murah, sekitar 25.000,-. Jadi ayah meminjam uang segituhpun sudah termasuk banyak banget. Karena sudah beberapa bulan ayah tidak membayar uang kontrakan.
            Selang beberapa hari dari ayah meminjam uang ke bunda. Ia terserang demam panas dingin. Ketika itu bunda juga hendak pulang ke kampung kemudian berpamitan kepadanya. Namun bunda terkejut ketika mebuka pintu kontrakan, melihat ia tergeletak tidak bisa apa-apa selain menggigil kedinginan. Tanpa pikir panjang bunda pun langsung mananyai, dan berusaha mengobati. Dengan mengerokkan punggungnya dan meminumkan obat kepadanya. Melihat ayah sedang sakit, bundapun mengurungkan niat pulangnya waktu itu. Dan menundaya di keesokan harinya. Keesokan harinya ayah sudah mendingan dari demamnya, dan bunda pamit pulang kembali. Namun tanpa di duga, ayah ingin ikut pulang bareng bersamanya. Bunda pun kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Tapi karena ayah terus mendesak kepadanya, lalu ia pun meng iya kan. Hari itu pula ia berdua pulang bersama, dan sampai di rumah ayah pada malam hari. Mau tidak mau bundapun menginap di rumahnya dan keesokan harinya pulang ke rumah bunda. Di sini awal kejadian bunda dan ayah menikah tanpa restu orang tua ayah sebelumnya. Yaitu ketika bunda pulang ke rumah, ayah di marahin oleh ibunya dengan menuduh bunda yang tidak-tidak. Melihat dan mendengar itu, ayah pun segera menyusul bunda pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumahnya bunda, ayah langsung bilang dan mengajak bunda untuk segera menikah. Bunda yang tidak tahu apa-apa, di ajak menikahpun masih bingung terpaku mendengarnya. Tapi karena desakan dan penjelasan ayah terhadapnya ia pun menurutinya. Dan mereka berdua pun kemudian menikah, menjalani kehidupan baru. Dimana kehidupan yang selalu bersama-sama di setiap waktu.
Dari semua kejadian itulah menjadikan suatu sejarah baru bagi kehidupan keluarga ini. Dan lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng dalam keluarga ini. Dimana itu semua menjadi bunga dalam rumah tangganya dan penyemangat dalam mencari rezekinya.
Ia terlahir dengan penuh keharuan, penuh ke bahagiaan bagi keluarganya. Sesosok bayi mungil ganteng, putih imut, dan sehat. Telah di beri nama olehnya, nama itu pemberian dari kakeknya yang tuna netra karena kecelakaan. Dan itu menjadi harta terindah pemberian kakeknya kepadanya. Irfan, itulah nama panggilan kakeknya yang setiap saat menimangnya. Dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan, kakeknya berharap untuk bisa merasakan kebersamaannya setiap waktu hingga kelak irfan dewasananti. Mohamad Irfan, nama yang bagus untuk seorang bayi laki-laki. Nama itu ia usungkan karena berharap kelak suatu hari nanti irfan bisa jadi orang yang baik, baik akhlaknya, fisiknya, dan imannya, seperti pada Muhammad nabi terahir, dan penutup akhir zaman kenabian. Di tengah-tengah kebahagiaannya itu, yang berharap akan selalu berada di dekapannya. Meski ia tidak dapat melihatnya. Tuhan berkehendak lain, ia di panggil, menghadap sang kuasa illahi. Ia wafat setelah lima bulan bersama cucunya. Bayi mungil yang sedang lucu-lucunya itu. Apa dikata.? Ketika tuhan sudah berkehendak pastilah terjadi. Sama halnya ia berharap untuk selalu bisa menimang cucunya. Ketika tuhan menjemputnya pastilah menghadap kepadanya. Tidak bisa berbuat pa-apa.
Hari berlalu terasa begituh cepat. Irfan yang dulunya kecil kini beranjak dewasa. Hari silir berganti membawa masa lalu yang indah. Masa kecil yang tidak mengenal lelah. Masa yang penuh pembelajaran demi masa yang akan datang. Masa yang sempurna bagi seorang balita dalam mengenal dunia. Rasa penasaran selalu ia ekspresikan dalam mengenal suatu benda. Dengan berbagai cara ia upayakan untuk dapat mengertikan benda apa itu. Seakan ia bertanya kepada dunia apa yang tidak ia ngertikan. Ia ingin mengetahuinya.
Pada suatu ketika dimana ia sedang belajar begituh banyak hal yang ingin ia mengertikan. Ia merangkak di tanah, di halaman rumahnya. Sama seperti pada balita umumnya yang sedang belajar berjalan yang di awali dengan merangkak terlebih dahulu. Ia merangkak kesana kemari bermaenan tanah yang selalu ia ambil dan di genggam erat-erat. Yang seakan-akan bertanya benda apakah ini.? Pada waktu bersamaan, di halaman rumah ada sebuah kandang ayam. Dimana kandang itu ada ayamnya, ayam yang baru menetaskan anak-anaknya. Iapun kemudian merangkak menghampiri kandang itu. Tertarik dengan suara dan imutnya anak ayam itu. Ia penasaran akan benda apa lagi yang di lihatnya. Pada waktu yang bersamaan bunda yang tadinya mendampingi kini pergi mengambil mangkouk untuk tempat bubur yang ia beli tadi. Ketika itu pula musibah datang menimpa dirinya. Ia terpatuk oleh induk anak ayam itu, di bagian matanya yang sebelah kiri. Seketika darah bercucuran keluar dari matanya. Dan iapun menangis kesakitan. Bunda yang mendengar suara anaknya menangis, dengan bergegas keluar dari dalam rumah. Menuju ke posisi keberadaannya irfan. Dengan hati cemas dan kaget ia melihat anaknya sekujur tubuh sudah di lumuri darah, menjadi shok berat dan menangis ketika melihatnya. Bingung harus berbuat apa, bundapun berteriak minta tolong. Seketika itu pula tetangga-tetangganya menghampiri. Dan terkejut melihat irfan sudah dalam kondisi lemas. Lalu segeralah ia di bawa ke rumah sakit, segera meminta penanganan kepada dokter. Semua orang yang melihat itu pada cemas, terutama bundanya. Pada waktu itu ayahnya sedang bekerja di ibu kota. Sehingga tidk mengetahui langsung soal musibah yang menimpa irfan anak semata wayang nya. Setelah beberapa menit kemudian dokter yang menanganinya keluar dari ruang IGD. Secara sepontanpun bunda langsung melontarkan pertanyaan tentang kondisi anaknya. “Anak saya bagaimna Dok, keadaannya,? Dia baik-baik sajakan Dok,?” Doter pun dengan nada syukur rendahnya mengucapkan, “ Alhamdulilah anak ibu baik-baik saja, tepat waktu untuk di tanganinya sehingga bisa kita cegah segera hal yang tidak kita harapkan, ia sebentar lagi juga akan terbangun. Namun kemungkinan besar ia akan mengalami kebutaan atau Min, di penglihatannya bu. Tapi insha allah akan baik-baik saja bu. Tinggal banyak berdo’a saja supaya ia bisa cepat pulih kembali dan tidak cacat dalaam penglihatannya bu.! ”. 
Melihat kejadian itu bunda menjadi terpukul atas apa yang menimpa pada anaknya. Hanya berdoa, bersyukur dan berserah diri kepada sang pencipta ia pasrahkan semua itu. Yang menjadi telah menimpa kepada anaknya. Hari demi hari berlalu bagai air turun dari hilir ke hulu. Penuh halangan rintangan yang di lalui. Kini irfan sudah sembuh dari musibah yang menimpanya. Beranjak dewasa sudah irfan mengarungi kehidupan yang penuh dengan cobaan. Enam tahun berlalu dari kejadian itu. Sekarang irfan menempuh pendidikan dasar. Dari yang sebelumnya ia sudah mengikuti pembelajan taman kanak-kanak. Kini melangkah sudah menuju ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Disaat irfan memulai pendidikannya di sekolah dasar. Faktor ekonomi melanda keluarganya yang menghanyutkan kedua orang tuanya ke perantauan mengais rezeki. Dari yang sebelumnya ketika 3 tahun yang lalu irfan di beri kesenangan yaitu seorang adik. Adik perempuan yang jelita. Istiqomah namanya, sering ia memanggilnya Atiq. Atik ikut bersama kedua orang tuanya merantau ke ibu kota. Sehingga irfan di tinggal sendirian di rumah. Irfan di titipkan kepada neneknya di kampung.
Siang berganti malam, mentari berganti rembulan, berlalu begituh cepat. Tanpa di rasa empat tahun sudah ia hidup bersama neneknya. Suka duka ia lalui dengan kesenangan, kesenangan akan suatu beban kehidupan yang jauh dari kedua orang tua. Sebisa mungkin ia urungkan bahkan tak meresponnya rasa hati yang seketika menyelimuti, merindukan akan belaian seorang bunda. Ketika ia melihat teman sebayanya merengik manja kepada bundanya, di belai, di sayang dengan senyuman lembutnya. Hanya tetesan air mata yang irfan ungkapkan. Tidak tahu harus bagaimana, hanya mimpi belaka ia merasakan. Ketika itu pula ia mencoba tabah mengusapkan air matanya yang deras mengalir di pipinya. Mencoba terseyum menanggapinya meski hati tak dapat di bohongi.
Hingga pada suatu ketika, ada pengumuman atas hasil akhir belajar semester pertamanya. Ketika itu satu sekolah di umumkan bahwa besok pengambilan Raport hasil ujiannya. Dan yang wajib mengambil orang tuanya. Benak pikiran irfan akan semua itu membuatnya kebingungan harus bagaimana. Sedangkan waktunya pengambilannya besok. Bingung akan semua itu membuat irfan terus  bersedih bingung mau berbuat apa. Orang tua jauh di luar kota, mengambil sendiri tidak boleh. Lalu dengan hati yang seddih ia beranikan bilang ke neneknya untuk mengambilkan raportnya. Meski sudah berfikir berulang kali akan kasihan untuk menyuruh neneknya, tapi mau bagai mana lagi. Hanya itu yang ia bisa. Namun dengan rasa syukurnya ketika neneknya mau mengambilkan raportnya. Dan kebahagiaan pula menghampiri bahwa ia masuk dalam 4 besar di kelasnya. Itu sudah termasuk hal yang membahagiakan bagi irfan, karena selain jadi obat semua kesedihannya itu pula menjadi kebanggaannya karena bisa masuk dalam 4 besar. Karena teman-teman yang lainnya pada pandai-pandai semua. Maka ia beruntung bisa mengalahkan teman di bawahnya, meski di peringkat atasnya masih ada.
Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena beberapa hari dari kabar gembira itu. Irfan terkena musibah lagi. Hampir sama dengan waktu balitanya. Tetapi musibah ini karena temannya sendiri. Yaitu matanya kepukul oleh temannya di bagian kiri. Hingga memar lebam biru karena sakin kerasnya pukulan yang kena oleh temannya. Dengan tanpa di rencanakan juga pas kebenaran yang ke pukul sebelah kiri. Dimana mata sebelah kirinya dulnya habis kecelakaan. Sehingga menambah parah mata yang sebelak diri. Dan berakibatkan mengalami kebutaan permanen serta yang sebelah kana mengalami keburaman penglihatan atau Min.
Dari semenjak itulah hidup irfan seakan tiadak berarti lagi. Bingung, sedih, amat menyesal ketika baru menjalani kehidupan dengan satu mata yang buram pandangannya. Dari yang dulunya melihat dunia dengan dua mata yang sehat. Kini hanya tinggal kenangan yang amat dalam. Kenangan yang tidak mungkin lagi bisa di rasakan. Merasakan kehidupan dengan kenyamanan akan fisik yang tidak cacat. Kebahagiaan akan tiada keterbatasan. Kini semuanya sirna sudah tinggal kenangan masa silam. Mustahil untuk bisa menikmati keindahan dunia dengan tanpa keterbatasan. Yang kini hilang sudah, hingga tak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat tanpa keterbatasan.
Semua itu hanya penyesalan sia-sia jikalau terus ia pikirkan. Tinggal harapan yang akan datang, untuk tidak mengambil satu cahaya kehidupan yang tersisa itu. Hanya itu yang kini ia jadikan tumpuan semangat hidup. Untuk masa depan yang akan datang. Dan hanya do’a yang terus ia panjatkan, akan karunia tuhan atas pemberian cobaan hidup yang membuatnya menjadi lebih tegar, terus bersyukur, terus istighfar, dan terus berdoa meminta jalan kabaikan serta kemudahan di masa yang akan datang.

“ Mengambil hikmah dalam kisah kehidupan ku, untuk tetap bersyukur atas yang tuhan berikan kepadaku. Satu pesan atas kisah ini untuk kalian. Sayangi, hargai, gunakan, kesehatanmu dengan sebaik mungkin. Tetap bersyukur, tabah, berdo’a, dan serah diri kepada sang pencipta. Akan semua cobaan yang melanda diri kalian…”

Terimakasih Telah Membaca Kisah Ku,,,,


 

Karya Ku : M.Irfan Efendy
SELESAI…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar