Tiada kata yang indah Selain kata syukur, Maka syukurilah apa yang ada, karena syukur merupakan salah satu bentuk menikmati pemberian tuhan, Pemberian Tuhan lebih baik dari yang lain, Serta tabahkan hati kita dalam menghadapi berbagai cobaan, By; Irfan Efendy

Jumat, 14 Oktober 2016

*" Hidup Dalam Satu Cahaya, Satu Kisah Hidup Yang Lara, Yang Selalu Bersama Hingga Akhir Hayat. "*



“ Hidup Dalam Satu Cahaya “

            Pagi tiada berarti lagi dalam suatu kehidupan. Satu takdir yang menyelimuti akan masa depan. Semua mimpi-mimpi kehidupan kini terkoyak remuk dalam keadaan. Silir angin berganti menggerakkan rerumputan. Gelap melanda menemani suatu keadaan. Kini tinggal angan-angan dalam benak kehidupan. Yang usai sudah untuk di harapkan.
            Rembulan pergi digantikan mentari. Awal pagi membangkitkan semangat kembali anak lelaki. Hari yang beda tidak seperti dulu lagi, kini harus ia jalani dengan penuh keikhlasan hati. Ia hanya berharap untuk dapat menitih hari-hari dengan batin yang semakin membebani. Dapat ia pikul seorang diri dengan menegarkan perasaannya. Terus tersenyum di setiap orang menghampiri. Selalu menutupi kekurangannya demi perasaan kelurganya. Terutama hati bunda yang selalu ia pikirkan, ia jaga rapat-rapat agar tidak menjadi beban hidupnya. Karena baginya tiada yang indah selain melihat bunda tersenyum setiap hari. Meski ia belum dapat membahagiakan, memberikan suatu harapan kepada bundanya.
            Hari demi hari ia jalani dengan penuh keyakinan hati. Yang dulunya bingung harus bagai mana dengan kekurangannya. Kini dengan melihat kondisi bundanya ia semangat kembali. Bangkit dari suatu keterpurukannya. Karena terselip batin hatinya yang melihat orang tuanya bekerja keras demi anak-anaknya, maka ia pun tergerak hatinya. Untuk sebisa mungkin ia membantu ekonomi orangtuanya.
            Ia terlahir dari orang yang tak mampu. Orang yang tak punya apa-apa. Hanya bersyukur yang selalu ia terima. Demi menyambung hidupnya. Ia pasrahkan kepada sang pemberi kenikmatan. Hidup susah sudah menjadi bagian dari sejarah hidupnya. Yang tentunya tidak akan terlupakan olehnya.
            Awal keluarganya terbentuk berawal dari ketidak sengajaan bertemunya bunda dengan ayahnya. Pada waktu itu bunda yang baru beranjak dewasa mencoba menaruh nasib ke ibu kota. Ia bekerja pada suatu perumahan di daerah gang suasembada timur, Jakarta utara. Dengan seperti biasanya, pada setiap malam minggu ia berkunjung ke warung makan. Dimana warung makan itu masih saudaraan dengan nya. Katika sedang berkunjung dengan tanpa di sengaja bertemulah dengan seorang lelaki tampan, hitam manis. Dari pertemuan itu kemudian mereka kenalan-kenalan. Pada suatu ketika dengan seperti biasanya. Ia sedang berkunjung kembali di rumah makan. Dan ketika hendak kembali ke rumah majikannya, hujan turun dengan lebatnya. Kemudian ia di anterl dengan membonceng berduaan di derasnya hujan malam. Menggunakan sepeda ontel yang biasa buat ayah bekerja dan di temani satu payung berduaan. Itu menjadi suatu kenangan terindah dan Ia jadikan memori kenangan terindah di masa berduaannya. Hari berlalu menyisakan syahdu nya rindu ketika besama ketika itu. Kini angin badai menerpa, menlemahkan akarnya cinta kepadanya. Bunda yang sudah menaruh rasa hati kepadanya, seakan pudar di buatnya karena orang ketiga hadir di tengah-tengah mekarnya cinta. Ia suka kepada ayah dan bundapun mencoba mengalah. Mengkuncupkan cinta buatnya. Namun tuhan berkehendak lain, meski rintangan meng hadang, dapat ia lalui bersama. Hingga pada suatu hari ayah meminjam uang ke bunda 75.000,- untuk membayar kontrakan. Pada waktu itu tahun 1992 dimana orang bekerjapun gajiannya masih murah, sekitar 25.000,-. Jadi ayah meminjam uang segituhpun sudah termasuk banyak banget. Karena sudah beberapa bulan ayah tidak membayar uang kontrakan.
            Selang beberapa hari dari ayah meminjam uang ke bunda. Ia terserang demam panas dingin. Ketika itu bunda juga hendak pulang ke kampung kemudian berpamitan kepadanya. Namun bunda terkejut ketika mebuka pintu kontrakan, melihat ia tergeletak tidak bisa apa-apa selain menggigil kedinginan. Tanpa pikir panjang bunda pun langsung mananyai, dan berusaha mengobati. Dengan mengerokkan punggungnya dan meminumkan obat kepadanya. Melihat ayah sedang sakit, bundapun mengurungkan niat pulangnya waktu itu. Dan menundaya di keesokan harinya. Keesokan harinya ayah sudah mendingan dari demamnya, dan bunda pamit pulang kembali. Namun tanpa di duga, ayah ingin ikut pulang bareng bersamanya. Bunda pun kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Tapi karena ayah terus mendesak kepadanya, lalu ia pun meng iya kan. Hari itu pula ia berdua pulang bersama, dan sampai di rumah ayah pada malam hari. Mau tidak mau bundapun menginap di rumahnya dan keesokan harinya pulang ke rumah bunda. Di sini awal kejadian bunda dan ayah menikah tanpa restu orang tua ayah sebelumnya. Yaitu ketika bunda pulang ke rumah, ayah di marahin oleh ibunya dengan menuduh bunda yang tidak-tidak. Melihat dan mendengar itu, ayah pun segera menyusul bunda pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumahnya bunda, ayah langsung bilang dan mengajak bunda untuk segera menikah. Bunda yang tidak tahu apa-apa, di ajak menikahpun masih bingung terpaku mendengarnya. Tapi karena desakan dan penjelasan ayah terhadapnya ia pun menurutinya. Dan mereka berdua pun kemudian menikah, menjalani kehidupan baru. Dimana kehidupan yang selalu bersama-sama di setiap waktu.
Dari semua kejadian itulah menjadikan suatu sejarah baru bagi kehidupan keluarga ini. Dan lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng dalam keluarga ini. Dimana itu semua menjadi bunga dalam rumah tangganya dan penyemangat dalam mencari rezekinya.
Ia terlahir dengan penuh keharuan, penuh ke bahagiaan bagi keluarganya. Sesosok bayi mungil ganteng, putih imut, dan sehat. Telah di beri nama olehnya, nama itu pemberian dari kakeknya yang tuna netra karena kecelakaan. Dan itu menjadi harta terindah pemberian kakeknya kepadanya. Irfan, itulah nama panggilan kakeknya yang setiap saat menimangnya. Dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan, kakeknya berharap untuk bisa merasakan kebersamaannya setiap waktu hingga kelak irfan dewasananti. Mohamad Irfan, nama yang bagus untuk seorang bayi laki-laki. Nama itu ia usungkan karena berharap kelak suatu hari nanti irfan bisa jadi orang yang baik, baik akhlaknya, fisiknya, dan imannya, seperti pada Muhammad nabi terahir, dan penutup akhir zaman kenabian. Di tengah-tengah kebahagiaannya itu, yang berharap akan selalu berada di dekapannya. Meski ia tidak dapat melihatnya. Tuhan berkehendak lain, ia di panggil, menghadap sang kuasa illahi. Ia wafat setelah lima bulan bersama cucunya. Bayi mungil yang sedang lucu-lucunya itu. Apa dikata.? Ketika tuhan sudah berkehendak pastilah terjadi. Sama halnya ia berharap untuk selalu bisa menimang cucunya. Ketika tuhan menjemputnya pastilah menghadap kepadanya. Tidak bisa berbuat pa-apa.
Hari berlalu terasa begituh cepat. Irfan yang dulunya kecil kini beranjak dewasa. Hari silir berganti membawa masa lalu yang indah. Masa kecil yang tidak mengenal lelah. Masa yang penuh pembelajaran demi masa yang akan datang. Masa yang sempurna bagi seorang balita dalam mengenal dunia. Rasa penasaran selalu ia ekspresikan dalam mengenal suatu benda. Dengan berbagai cara ia upayakan untuk dapat mengertikan benda apa itu. Seakan ia bertanya kepada dunia apa yang tidak ia ngertikan. Ia ingin mengetahuinya.
Pada suatu ketika dimana ia sedang belajar begituh banyak hal yang ingin ia mengertikan. Ia merangkak di tanah, di halaman rumahnya. Sama seperti pada balita umumnya yang sedang belajar berjalan yang di awali dengan merangkak terlebih dahulu. Ia merangkak kesana kemari bermaenan tanah yang selalu ia ambil dan di genggam erat-erat. Yang seakan-akan bertanya benda apakah ini.? Pada waktu bersamaan, di halaman rumah ada sebuah kandang ayam. Dimana kandang itu ada ayamnya, ayam yang baru menetaskan anak-anaknya. Iapun kemudian merangkak menghampiri kandang itu. Tertarik dengan suara dan imutnya anak ayam itu. Ia penasaran akan benda apa lagi yang di lihatnya. Pada waktu yang bersamaan bunda yang tadinya mendampingi kini pergi mengambil mangkouk untuk tempat bubur yang ia beli tadi. Ketika itu pula musibah datang menimpa dirinya. Ia terpatuk oleh induk anak ayam itu, di bagian matanya yang sebelah kiri. Seketika darah bercucuran keluar dari matanya. Dan iapun menangis kesakitan. Bunda yang mendengar suara anaknya menangis, dengan bergegas keluar dari dalam rumah. Menuju ke posisi keberadaannya irfan. Dengan hati cemas dan kaget ia melihat anaknya sekujur tubuh sudah di lumuri darah, menjadi shok berat dan menangis ketika melihatnya. Bingung harus berbuat apa, bundapun berteriak minta tolong. Seketika itu pula tetangga-tetangganya menghampiri. Dan terkejut melihat irfan sudah dalam kondisi lemas. Lalu segeralah ia di bawa ke rumah sakit, segera meminta penanganan kepada dokter. Semua orang yang melihat itu pada cemas, terutama bundanya. Pada waktu itu ayahnya sedang bekerja di ibu kota. Sehingga tidk mengetahui langsung soal musibah yang menimpa irfan anak semata wayang nya. Setelah beberapa menit kemudian dokter yang menanganinya keluar dari ruang IGD. Secara sepontanpun bunda langsung melontarkan pertanyaan tentang kondisi anaknya. “Anak saya bagaimna Dok, keadaannya,? Dia baik-baik sajakan Dok,?” Doter pun dengan nada syukur rendahnya mengucapkan, “ Alhamdulilah anak ibu baik-baik saja, tepat waktu untuk di tanganinya sehingga bisa kita cegah segera hal yang tidak kita harapkan, ia sebentar lagi juga akan terbangun. Namun kemungkinan besar ia akan mengalami kebutaan atau Min, di penglihatannya bu. Tapi insha allah akan baik-baik saja bu. Tinggal banyak berdo’a saja supaya ia bisa cepat pulih kembali dan tidak cacat dalaam penglihatannya bu.! ”. 
Melihat kejadian itu bunda menjadi terpukul atas apa yang menimpa pada anaknya. Hanya berdoa, bersyukur dan berserah diri kepada sang pencipta ia pasrahkan semua itu. Yang menjadi telah menimpa kepada anaknya. Hari demi hari berlalu bagai air turun dari hilir ke hulu. Penuh halangan rintangan yang di lalui. Kini irfan sudah sembuh dari musibah yang menimpanya. Beranjak dewasa sudah irfan mengarungi kehidupan yang penuh dengan cobaan. Enam tahun berlalu dari kejadian itu. Sekarang irfan menempuh pendidikan dasar. Dari yang sebelumnya ia sudah mengikuti pembelajan taman kanak-kanak. Kini melangkah sudah menuju ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Disaat irfan memulai pendidikannya di sekolah dasar. Faktor ekonomi melanda keluarganya yang menghanyutkan kedua orang tuanya ke perantauan mengais rezeki. Dari yang sebelumnya ketika 3 tahun yang lalu irfan di beri kesenangan yaitu seorang adik. Adik perempuan yang jelita. Istiqomah namanya, sering ia memanggilnya Atiq. Atik ikut bersama kedua orang tuanya merantau ke ibu kota. Sehingga irfan di tinggal sendirian di rumah. Irfan di titipkan kepada neneknya di kampung.
Siang berganti malam, mentari berganti rembulan, berlalu begituh cepat. Tanpa di rasa empat tahun sudah ia hidup bersama neneknya. Suka duka ia lalui dengan kesenangan, kesenangan akan suatu beban kehidupan yang jauh dari kedua orang tua. Sebisa mungkin ia urungkan bahkan tak meresponnya rasa hati yang seketika menyelimuti, merindukan akan belaian seorang bunda. Ketika ia melihat teman sebayanya merengik manja kepada bundanya, di belai, di sayang dengan senyuman lembutnya. Hanya tetesan air mata yang irfan ungkapkan. Tidak tahu harus bagaimana, hanya mimpi belaka ia merasakan. Ketika itu pula ia mencoba tabah mengusapkan air matanya yang deras mengalir di pipinya. Mencoba terseyum menanggapinya meski hati tak dapat di bohongi.
Hingga pada suatu ketika, ada pengumuman atas hasil akhir belajar semester pertamanya. Ketika itu satu sekolah di umumkan bahwa besok pengambilan Raport hasil ujiannya. Dan yang wajib mengambil orang tuanya. Benak pikiran irfan akan semua itu membuatnya kebingungan harus bagaimana. Sedangkan waktunya pengambilannya besok. Bingung akan semua itu membuat irfan terus  bersedih bingung mau berbuat apa. Orang tua jauh di luar kota, mengambil sendiri tidak boleh. Lalu dengan hati yang seddih ia beranikan bilang ke neneknya untuk mengambilkan raportnya. Meski sudah berfikir berulang kali akan kasihan untuk menyuruh neneknya, tapi mau bagai mana lagi. Hanya itu yang ia bisa. Namun dengan rasa syukurnya ketika neneknya mau mengambilkan raportnya. Dan kebahagiaan pula menghampiri bahwa ia masuk dalam 4 besar di kelasnya. Itu sudah termasuk hal yang membahagiakan bagi irfan, karena selain jadi obat semua kesedihannya itu pula menjadi kebanggaannya karena bisa masuk dalam 4 besar. Karena teman-teman yang lainnya pada pandai-pandai semua. Maka ia beruntung bisa mengalahkan teman di bawahnya, meski di peringkat atasnya masih ada.
Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama, karena beberapa hari dari kabar gembira itu. Irfan terkena musibah lagi. Hampir sama dengan waktu balitanya. Tetapi musibah ini karena temannya sendiri. Yaitu matanya kepukul oleh temannya di bagian kiri. Hingga memar lebam biru karena sakin kerasnya pukulan yang kena oleh temannya. Dengan tanpa di rencanakan juga pas kebenaran yang ke pukul sebelah kiri. Dimana mata sebelah kirinya dulnya habis kecelakaan. Sehingga menambah parah mata yang sebelak diri. Dan berakibatkan mengalami kebutaan permanen serta yang sebelah kana mengalami keburaman penglihatan atau Min.
Dari semenjak itulah hidup irfan seakan tiadak berarti lagi. Bingung, sedih, amat menyesal ketika baru menjalani kehidupan dengan satu mata yang buram pandangannya. Dari yang dulunya melihat dunia dengan dua mata yang sehat. Kini hanya tinggal kenangan yang amat dalam. Kenangan yang tidak mungkin lagi bisa di rasakan. Merasakan kehidupan dengan kenyamanan akan fisik yang tidak cacat. Kebahagiaan akan tiada keterbatasan. Kini semuanya sirna sudah tinggal kenangan masa silam. Mustahil untuk bisa menikmati keindahan dunia dengan tanpa keterbatasan. Yang kini hilang sudah, hingga tak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat tanpa keterbatasan.
Semua itu hanya penyesalan sia-sia jikalau terus ia pikirkan. Tinggal harapan yang akan datang, untuk tidak mengambil satu cahaya kehidupan yang tersisa itu. Hanya itu yang kini ia jadikan tumpuan semangat hidup. Untuk masa depan yang akan datang. Dan hanya do’a yang terus ia panjatkan, akan karunia tuhan atas pemberian cobaan hidup yang membuatnya menjadi lebih tegar, terus bersyukur, terus istighfar, dan terus berdoa meminta jalan kabaikan serta kemudahan di masa yang akan datang.

“ Mengambil hikmah dalam kisah kehidupan ku, untuk tetap bersyukur atas yang tuhan berikan kepadaku. Satu pesan atas kisah ini untuk kalian. Sayangi, hargai, gunakan, kesehatanmu dengan sebaik mungkin. Tetap bersyukur, tabah, berdo’a, dan serah diri kepada sang pencipta. Akan semua cobaan yang melanda diri kalian…”

Terimakasih Telah Membaca Kisah Ku,,,,


 

Karya Ku : M.Irfan Efendy
SELESAI…..

Kamis, 13 Oktober 2016

" Bagaimana Kabarmu Permaenan Tradisional " Permaenan Yang Dulu Menemani Kecilnya Kita...

“  Bagaimana Kabarmu Permainan Tradisional “

            Ketika kita kecil dulu tak luput dengan kata bermaen. Masih teringat jelas ketika kita berkumpul bersama dengan teman-teman. Dalam canda gurau menghilangkan rasa kesepian bersama. Kita terbahak-bahak melepas rasa gunda yang terkadang terselip di hati kita. Dengan berkumpul bersama kita melakukan suatu hal yang bisa kita maenkan bersama-sama.
            Pada suatu ketika ku bangun di pagi hari. Pagi tiada berarti jika tak bersyukur kembali kepada sang ilahi. Pagi dimana ku beraktifitas kembali bersama teman-teman di sekolahan. Pada saptu pagi ini ku bergegas beranjak dari tempat tidurku. Karena sang  mentari pun sudah memancarkan dan menyinari hari pekan ku. Bergegas ku mandi menyegarkan tubuh kembali agar semangat beraktifitas di sekolah nanti.
            Waktu berjalan terasa begituh cepat. Beel sekolah pun berbunyi. Pertanda waktunya belajar di mulai.  Pukul 07 : 25, itu lah ku mulai mengikuti pelajaran dalam ruang kelas bersama teman-teman.  Waktu berlalu membawa tingginya mentari dimana waktunya istirahat berjumpa menghampiri kami. Aku dan teman-temanku biasa memanfaatkan waktu istirahtnya dengan bermaen-maen.
            Ketika itu dalam lingkungan sekolahku SD N SONGGOM 6 sedang musim permaean mobil tamia dari selembar kertas buku catatan. Pada waktu itu ku membuatnya dengan kreasi yang unik, tentunya agar beda dengan karya teman-teman lainnya. Ku membuat dengan melipat sana melipat sini, hingga terbentuklah mobil-mobilan tamia itu. Aku dan teman memaenkannya dengan cara meniupnya. Karena pada dasarnya permaenan ini tidak mempunyai roda apa lagi system penggerak. Permaenan ini aku maenkan dengan beragam jenis maennya. Yang pertama kami memaenkanya dengan balapan atau sering kita sebut Damonan tamia. Damonan tamia ini, kita memaenkannya mengadu kecepatan kita dalam meniupkan mobil tamia ini. Dimana siapa yang mobil tamia nya tertiup paling jauh atau melewati batas finis itu yang memenangkan permaenannya. Kedua kita memaenkannya denga cara mengadu atau menabrakkan kepada mobil tamia lawannya ini sering kita sebut dengan Benturan tamia. Benturan tamia ini cara memaenkannya tidak jauh berbeda dengan Damonan tamia. Sebab masih sama-sama kita tiup memaenkannya. Namun Benturan tamia ini mengadu mobil-mobilan untuk menabrakkan ke lawannya dan siapa yang terbalik itu yang kalah. Yang terahir atau ketiga yaitu dengan cara mengadu untuk bisa melontar atau meloncat dan posisi mendarat tidak terbalik. Permaenan ini sering kita sebut Maburan tamia. Maburan tamia ini kita memaenkanya dengan meniupkan tamia agar terdorong kedepan dan melewati lintasan menanjak, sering kita menggunakan lintasannya dengan buku tulis yang di topang penghapus papan tulis di bagian bawahnya. Dimana agar mobil tamia itu bisa melontar meloncat jauh kedepan.
            Haehaeh….  Cukup mudah dan sederhanakan permaenan mobil-mobilan tamia ini. Tentunya dapat menghibur kita di waktu luang di lingkungan sekolah. Dan yang pasti dapat menghilangkan kejenuhan dalam beban tugas dari guru serta menjadikan hubungan persaudaraan dengan teman menjadi semakin kuat dan tidak akan terlupakan dalam hidup kita. Terutama pada masa-masa sekolah kita bersama teman.
            Tidak di rasa beel pun berbunyi kembali, pertanda masuk pelajaran di mulai lagi. Kini berganti mata pelajaran berbeda dengan tadi pagi. Seni budaya, itulah yang kini pak guru ajarin ke kami. Di dalam mata pelajaran Seni Budaya kali ini pak guru membahas tentang berakenaragam jenis permaenan tradisional. Dimana permaenan ini sejak dulu zamannya pak guru kecil pun sudah ada. Sama seperti aku dan teman-teman sampai sekarang masih memaenkannya. Ada berakenaragam jenis permaenan yang di bahas dalam pelajaran ini. Yaitu Enggrang, Congklak / Sawah-sawahan, Kelereng, Kasti, Monopoli / Ular tangga, Mejikuhibiniu, Gim-giman, Dan masih banyak lagi yang lainnya.
            Permaenan – permaenan di atas merupakan beberapa contoh permaenan tradisional. Yang dengan secara tidak langsung sudah ada di daerah Brebes sejak dulu. Sehingga pak guru pun menerangkan permaenan itu bisa dengan rinci. Tentang bagai mana cara-cara memaenkannya.
            Tidak terasa waktu belajar di lingkungan sekolah telah usai. Dan kini semuanya pada pulang kembali ke rumah masing-masing, terutama aku. Aku pulang kerumah dengan gembiranya. Berlarian sembari memanggil-manggil nenek / mbok’e { sebutan di kampung ku }. “ Mbok’eee,,,,,     Mbok’eee,,,,,     Mbok’eee,,,,, “. Meski rumah tempat tinggal ku dekat dari sekolahan. Tetapi aku selalu bersemangat untuk pulang kerumah. “ Ada apa nak,,, jangan berlarian seperti itu, nanti jatuh  “. Dari kejauhan Mbok’e manyaut panggilan ku dan menasehati ku untuk jangan berlarian ketika pulang, karena nanti bisa terjatuh. “ ini Mbok’e mobil-mobilan tamia irfan, baguskan Mbok’e. tadi disekolahan aku menang luuh Mbok’e,,, bisa ngalahin punya teman – teman “. Dengan senang dan bangganya aku nunjukin karya mobil tamia ku yang terbuat dari kertas ke Mbok’e. Kenapah ku memanggilnya Mbok’e, ketika pulang sekolah.? Kenapa tidak ibu yang aku panggil.?
            Semenjak aku sekolah SD aku di tinggal sendirian di kampung oleh Ibu dan Bapak. Kedua orang tua ku tinggal di Jakarta mencari uang buat biayai aku sekolah dan makan sehari-hari. Hampir 4 tahun aku hidup berduaan bersama nenek di kampung. Aku jalani dengan penuh kemandirian. Dimana ketika hari libur tiba aku membantu nenek di kebun, Mencuci pakaian sendiri, bahkan mencari kayu bakar di hutan untuk memasak di pawon / tungku. Karena ku jauh dari orang tua, itulah yang memaksakan ku harus bisa hidup mandiri. Menyelesaikan segalanya sendiri. Hingga membantu nenek sebisa mungkin. Karena nenek juga sudah tidak sekuat dulu lagi tenaganya untuk bekerja terlalu lama. Itulah alasan ku memangil – manggil nenek ketika pulanng sekolah. Selain sudah terbiasa menyebut nenek, karena semenjak kecil pula aku hidup bersama nenek, dan lama tidak menyebut Ibu atau Ayah. Sehingga sudah terbiasa menyebut nenek.
            Namun aku juga tidak sepenuhnya menghabiskan waktu liburnya atau senggangnya untuk bekerja atau membantu nenek. Terkadang ketika selesai membantu pekerjaan nenek. Aku biasanya langsung pergi bermain dengan teman-teman. Menghabiskan waktu bersama teman dengan bermain. Ketika bermain bersama teman-teman biasanya kami memaenkan permaenan tradisional. Dimana permaenan tradisional ini sejak dulu sudah ada. Dan sudah menjadi suatu permaenan yang di gemari anak-anak. Karena selain seru permaenannya. Di situh juga kita bisa semakin memper erat persahabtannya. Permaenan ini membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya. Kurang lebih 10 orang. Sepuluh orang di bagi menjadi dua Tim. Jadi satu tim beranggotakan 5 orang. Mempermaenkannya juga membutuhkan tempat halaman yang laus, Kisaran 5x7,5 m persegi. Permaenan ini biasa kami sebut Slodor. Permaenan slodor ini kata nenek merupakan permaenan tradisional khas Brebes. Karena sejak dahulu nenek kecil pun permaenan ini sudah ada. Dan sudah menjadi permaenan favorit bagi anak-anak. Meski orang dewasa juga bisa melakukan permaenan ini. Karena pada dasarnya permaenan slodor ini tidak mengenal usia. Asal masih sanggunp dan kuat untuk bergerak menangkap lawannya. Itu masih di perbolehkan, tidak ada  yang melarang selain keinginan diri sendiri untuk berhenti bermain.
            Kami bermain permainan slodor biasanya di waktu menjelang sore. Ketika suasananya sudah tidak terlalu panas. Karena bermaennya di tengah-tengah halaman rumah yang luas. Bermain slodor sangat seru dan bikin terus tertawa. Hingga tidak mengenal waktu. Meski sesudahnya sangat melelahkan, namun dapat menghibur dan jadi hiburan bagi yang menontonnya. Permainan ini juga bisa di katakan kita sambil berolahraga dalam bermainnya. Karena dalam bermaennya sangat aktif bergerak meloncat, berlari, menunduk, dan sebagainya. Sehingga dapat banyak menguras tenaga dan keringat. Yang membuat kita terkadang bertindak dengan tidak sengaja dan tidak seharusnya di lakukan karena lelah. Tidak hanya itu, terkadang juga dengan tanpa di sengaja kita melakukan hal yang lucu. Yang dapat membuat kita ketawa terbahak-bahak ketika melihatnya. Sehingga selain sangat seru permainannya, juga menjadi hiburan tersendiri.
            Itulah salah satu permainan yang biasa aku mainkan bersama teman-teman. Ketika pulang sekolah atau waktu senggang di hari libur ku.
            Tanpa di rasa ternyata hari sudah hampir larut malam. Ketika ku bermain dengan teman-teman, ku tidak mengingat waktu untuk pulang. Karena saking serunya bermain sampai-sampai tidak mengingat waktu. Haehaeh... maklum. Waktu itu ku berumur kurang lebih 11 tahun. Waktu dimana anak seumuran itu sedang asyik-asyik menikmati waktu bermainnya. Tanpa mengingat kapan waktunya untuk bermain dan waktunya pulang.
            Adzan maghrib pun berkumandang, mengingatkan ku untuk segera pergih ke mushola menunaikan sholat maghrib. Aku pun bergegas berangkat ke mushola, seakan tidak mau sampai ketinggalan sholatnya dari imam. Seperti biasanya seusai sholat maghrib aku kemudian berangkat mengaji bersama teman-teman.
            Pada suatu ketika ada suatu peristiwa di saat aku mengaji bersama teman. Dimana waktu itu kami bikin onar atau gaduh di dalam ruang mengaji. Sehingga kami semua di marahin oleh pak ustad atau guru ngajinya. Waktu itu aku dan teman-teman bikin gaduh di ruang ngaji, karena kami di sambi menunggu giliran maju mengaji. Kami melakukan suatu permainan. Permainan ini menggunakan jari-jari tangan. Bermainnya biasanya berjumlah 7 orang pemain. Tetapi tidak membatasi jumblah  umur pemain. Namun pada umumnya kebanyakan yang memainkan permainan ini anak kecil. Permainan ini juga membutuhkan gerak cepat pemainnya ketika nama yang di usungkan keluar terpilih. Permainan ini namanya Mejikuhibiniu. Dalam permainan ini ketika nama yang di usungkannya keluar maka pemenang wajib melakukan suatu tindakan. Dimana tindakan ini pemenang boleh ngapain saja ke lawan yang kalah. Yang sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Biasanya perjanjian dalam permainaan Mejikuhibiniu ini yaitu hampir sama juga dengan perainan. Karena lawan yang kalah nanti akan mendapatkan akibatnya ketika suitnya kalah. Jadi meski sebelumnya pemenang memenangkan permainan Mejikuibiniu, dan di beri kesempatan melakukan suatu tindakan, juga lawan di beri kesempatan lagi untuk bersuit. Ketika lawan menang suitnya, maka pemenang tidak boleh melakukan suatu tindakan kepada orang itu. Sehingga dapat membuat suatu kegaduhan yang sangat mengganggu.
            Karena pada waktu memainkan permainan itu di saat sedang mengaji, sehingga kami semua di marahin oleh guru ngajinya.
            Sebenarnya permainan itu di lakukan jangan di waktu yang sedang serius, seperti waktu mengaji. Karena bisa mengganggu suasananya. Karena pada dasarnya permainan ini hanya untuk seru-seruan, menghilangkan rasa bosan dan kejenuhan. Yang membuat kita tertawa dan bersuara kencang. Sehingga tidak tepat waktunya jika sedang serius, malah memainkan permainan ini.
            Tidak di rasa mengajipun telah selesai. Kini ku waktunya pulang ke rumah. Karena pada zaman dulu masih jarang ada tv. Setelah pulang mengajipun aku langsung bergegasnya menggantkan buku mata pelajaran buat besoknya. Mungkin sudah jadi kebiasaanku dahulu ketika belajar sambil tiduran. Sehingga aku belajar hingga tidu dengan sendirinya.
            Kini semua itu telah berlalu menjadi kenangan masa lalu. Yang mustahil terulang kembali di kemudian hari. Tinggal bayang-bayang senyuman ketika kita memainkannya. Tergerusnya waktu yang berlalu. Menyisakan suatu kenangan terindah ketika bersama. Kenangan akan kangennya melakukan suatu permainan barsama-sama. Kangen akan suatu permainaan tradisional yang dulu kita mainkan.
            Namun karena tergerusnya zaman digital semua itu kian terlupakan. Dulu kita kecil memainkan dengan penuh semangat, penuh dengan kegembiraan, Kini telah terlupakan. Karena zaman modern yang terus di depan. Terus merangsak meninggalkan masa lampau. Tapi sayang majunya zaman tidak di barengi oleh di junjungnya permainan tradisional.
            Yang dulunya anak kecil atau orang  dahulu  bermain permainan tradisional seperti ;  - Kelereng, - Kasti, - Slodor, - Mejikuhibiniu, - Gim-giman, - Petak umpet, - Sawah-sawahan, - Mono poli/ular tangga,  - Benteng-bentengan, - Blantongan, - Kucing sarungan, - Gajah baruan, - Yeyean, - Kyu-kyuan,  -Gaburan [ kartu bergambar ], - Soteng-sotengan, - Ribok-ribokan, - Jangka, - Mobil-mobilan dari Kayu, Tanah liat, dan Bambu, - Bakpia, - Enggrang, - Balap gendong, dan sebagainya.
            Kini di tinggal sudah olehnya, beralih ke permainan yang modern. Seperti halnya ; COCan, Plastation. Pokemon Go, Dindong, dan permainan On Line lainnya. Sungguh malang nasib permainan tradisional. Yang tertinggal Haya oleh permainan seperti itu.
            Kangen akan semua permainan tradisional. Permainan yang dulu menemani hari kecilku. Kini entah dimana kau berada, bagaimana kabarmu, siapa yang masih memainkanmu, mungkin hanya ada segelintir orang dari seratus orang yang masih memainkanmu. Tapi itupun entah ku tidak tau.
            Mari kita sama-sama terus melestarikan indahnya, serunya, bahagianya kita ketika memainkan permainan tradisional ini. Permainan asli Tanah Air kita, asli dari Negeri kita, Negeri  Indonesia Tercinta.
SELESAI…