“ Bagaimana Kabarmu Permainan Tradisional “
Ketika kita kecil dulu tak luput dengan kata bermaen.
Masih teringat jelas ketika kita berkumpul bersama dengan teman-teman. Dalam canda
gurau menghilangkan rasa kesepian bersama. Kita terbahak-bahak melepas rasa
gunda yang terkadang terselip di hati kita. Dengan berkumpul bersama kita
melakukan suatu hal yang bisa kita maenkan bersama-sama.
Pada suatu ketika ku bangun di pagi hari. Pagi tiada
berarti jika tak bersyukur kembali kepada sang ilahi. Pagi dimana ku
beraktifitas kembali bersama teman-teman di sekolahan. Pada saptu pagi ini ku
bergegas beranjak dari tempat tidurku. Karena sang mentari pun sudah memancarkan dan menyinari
hari pekan ku. Bergegas ku mandi menyegarkan tubuh kembali agar semangat
beraktifitas di sekolah nanti.
Waktu berjalan terasa begituh cepat. Beel sekolah pun
berbunyi. Pertanda waktunya belajar di mulai.
Pukul 07 : 25, itu lah ku mulai mengikuti pelajaran dalam ruang kelas
bersama teman-teman. Waktu berlalu
membawa tingginya mentari dimana waktunya istirahat berjumpa menghampiri kami.
Aku dan teman-temanku biasa memanfaatkan waktu istirahtnya dengan bermaen-maen.
Ketika itu dalam lingkungan sekolahku SD N SONGGOM 6
sedang musim permaean mobil tamia dari selembar kertas buku catatan. Pada waktu
itu ku membuatnya dengan kreasi yang unik, tentunya agar beda dengan karya
teman-teman lainnya. Ku membuat dengan melipat sana melipat sini, hingga
terbentuklah mobil-mobilan tamia itu. Aku dan teman memaenkannya dengan cara
meniupnya. Karena pada dasarnya permaenan ini tidak mempunyai roda apa lagi
system penggerak. Permaenan ini aku maenkan dengan beragam jenis maennya. Yang
pertama kami memaenkanya dengan balapan atau sering kita sebut Damonan
tamia. Damonan tamia ini, kita memaenkannya mengadu kecepatan kita
dalam meniupkan mobil tamia ini. Dimana siapa yang mobil tamia nya tertiup
paling jauh atau melewati batas finis itu yang memenangkan permaenannya. Kedua
kita memaenkannya denga cara mengadu atau menabrakkan kepada mobil tamia
lawannya ini sering kita sebut dengan Benturan tamia. Benturan tamia ini
cara memaenkannya tidak jauh berbeda dengan Damonan tamia. Sebab masih
sama-sama kita tiup memaenkannya. Namun Benturan tamia ini mengadu
mobil-mobilan untuk menabrakkan ke lawannya dan siapa yang terbalik itu yang
kalah. Yang terahir atau ketiga yaitu dengan cara mengadu untuk bisa melontar
atau meloncat dan posisi mendarat tidak terbalik. Permaenan ini sering kita
sebut Maburan tamia. Maburan tamia ini kita memaenkanya dengan
meniupkan tamia agar terdorong kedepan dan melewati lintasan menanjak, sering
kita menggunakan lintasannya dengan buku tulis yang di topang penghapus papan
tulis di bagian bawahnya. Dimana agar mobil tamia itu bisa melontar meloncat
jauh kedepan.
Haehaeh…. Cukup
mudah dan sederhanakan permaenan mobil-mobilan tamia ini. Tentunya dapat
menghibur kita di waktu luang di lingkungan sekolah. Dan yang pasti dapat
menghilangkan kejenuhan dalam beban tugas dari guru serta menjadikan hubungan
persaudaraan dengan teman menjadi semakin kuat dan tidak akan terlupakan dalam
hidup kita. Terutama pada masa-masa sekolah kita bersama teman.
Tidak di rasa beel pun berbunyi kembali, pertanda masuk
pelajaran di mulai lagi. Kini berganti mata pelajaran berbeda dengan tadi pagi.
Seni budaya, itulah yang kini pak guru ajarin ke kami. Di dalam mata pelajaran
Seni Budaya kali ini pak guru membahas tentang berakenaragam jenis permaenan
tradisional. Dimana permaenan ini sejak dulu zamannya pak guru kecil pun sudah
ada. Sama seperti aku dan teman-teman sampai sekarang masih memaenkannya. Ada
berakenaragam jenis permaenan yang di bahas dalam pelajaran ini. Yaitu Enggrang, Congklak / Sawah-sawahan, Kelereng,
Kasti, Monopoli / Ular tangga, Mejikuhibiniu, Gim-giman, Dan masih banyak
lagi yang lainnya.
Permaenan – permaenan di atas
merupakan beberapa contoh permaenan tradisional. Yang dengan secara tidak
langsung sudah ada di daerah Brebes sejak dulu. Sehingga pak guru pun
menerangkan permaenan itu bisa dengan rinci. Tentang bagai mana cara-cara
memaenkannya.
Tidak terasa waktu belajar di
lingkungan sekolah telah usai. Dan kini semuanya pada pulang kembali ke rumah
masing-masing, terutama aku. Aku pulang kerumah dengan gembiranya. Berlarian
sembari memanggil-manggil nenek / mbok’e { sebutan di kampung ku }. “
Mbok’eee,,,,, Mbok’eee,,,,, Mbok’eee,,,,, “. Meski rumah tempat
tinggal ku dekat dari sekolahan. Tetapi aku selalu bersemangat untuk pulang
kerumah. “ Ada apa nak,,, jangan berlarian seperti itu, nanti jatuh “. Dari kejauhan Mbok’e manyaut panggilan ku
dan menasehati ku untuk jangan berlarian ketika pulang, karena nanti bisa
terjatuh. “ ini Mbok’e mobil-mobilan tamia irfan, baguskan Mbok’e. tadi
disekolahan aku menang luuh Mbok’e,,, bisa ngalahin punya teman – teman “.
Dengan senang dan bangganya aku nunjukin karya mobil tamia ku yang terbuat dari
kertas ke Mbok’e. Kenapah ku memanggilnya Mbok’e, ketika pulang sekolah.?
Kenapa tidak ibu yang aku panggil.?
Semenjak aku sekolah SD aku di
tinggal sendirian di kampung oleh Ibu dan Bapak. Kedua orang tua ku tinggal di
Jakarta mencari uang buat biayai aku sekolah dan makan sehari-hari. Hampir 4
tahun aku hidup berduaan bersama nenek di kampung. Aku jalani dengan penuh
kemandirian. Dimana ketika hari libur tiba aku membantu nenek di kebun, Mencuci
pakaian sendiri, bahkan mencari kayu bakar di hutan untuk memasak di pawon /
tungku. Karena ku jauh dari orang tua, itulah yang memaksakan ku harus bisa
hidup mandiri. Menyelesaikan segalanya sendiri. Hingga membantu nenek sebisa
mungkin. Karena nenek juga sudah tidak sekuat dulu lagi tenaganya untuk bekerja
terlalu lama. Itulah alasan ku memangil – manggil nenek ketika pulanng sekolah.
Selain sudah terbiasa menyebut nenek, karena semenjak kecil pula aku hidup
bersama nenek, dan lama tidak menyebut Ibu atau Ayah. Sehingga sudah terbiasa
menyebut nenek.
Namun aku juga tidak sepenuhnya
menghabiskan waktu liburnya atau senggangnya untuk bekerja atau membantu nenek.
Terkadang ketika selesai membantu pekerjaan nenek. Aku biasanya langsung pergi
bermain dengan teman-teman. Menghabiskan waktu bersama teman dengan bermain.
Ketika bermain bersama teman-teman biasanya kami memaenkan permaenan
tradisional. Dimana permaenan tradisional ini sejak dulu sudah ada. Dan sudah
menjadi suatu permaenan yang di gemari anak-anak. Karena selain seru
permaenannya. Di situh juga kita bisa semakin memper erat persahabtannya.
Permaenan ini membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya. Kurang lebih 10
orang. Sepuluh orang di bagi menjadi dua Tim. Jadi satu tim beranggotakan 5
orang. Mempermaenkannya juga membutuhkan tempat halaman yang laus, Kisaran
5x7,5 m persegi. Permaenan ini biasa kami sebut Slodor. Permaenan slodor
ini kata nenek merupakan permaenan tradisional khas Brebes. Karena sejak dahulu
nenek kecil pun permaenan ini sudah ada. Dan sudah menjadi permaenan favorit
bagi anak-anak. Meski orang dewasa juga bisa melakukan permaenan ini. Karena
pada dasarnya permaenan slodor ini tidak mengenal usia. Asal masih sanggunp dan
kuat untuk bergerak menangkap lawannya. Itu masih di perbolehkan, tidak
ada yang melarang selain keinginan diri
sendiri untuk berhenti bermain.
Kami bermain permainan slodor
biasanya di waktu menjelang sore. Ketika suasananya sudah tidak terlalu panas.
Karena bermaennya di tengah-tengah halaman rumah yang luas. Bermain slodor
sangat seru dan bikin terus tertawa. Hingga tidak mengenal waktu. Meski
sesudahnya sangat melelahkan, namun dapat menghibur dan jadi hiburan bagi yang
menontonnya. Permainan ini juga bisa di katakan kita sambil berolahraga dalam
bermainnya. Karena dalam bermaennya sangat aktif bergerak meloncat, berlari,
menunduk, dan sebagainya. Sehingga dapat banyak menguras tenaga dan keringat. Yang
membuat kita terkadang bertindak dengan tidak sengaja dan tidak seharusnya di
lakukan karena lelah. Tidak hanya itu, terkadang juga dengan tanpa di sengaja
kita melakukan hal yang lucu. Yang dapat membuat kita ketawa terbahak-bahak ketika
melihatnya. Sehingga selain sangat seru permainannya, juga menjadi hiburan tersendiri.
Itulah salah satu permainan yang
biasa aku mainkan bersama teman-teman. Ketika pulang sekolah atau waktu
senggang di hari libur ku.
Tanpa di rasa ternyata hari sudah
hampir larut malam. Ketika ku bermain dengan teman-teman, ku tidak mengingat
waktu untuk pulang. Karena saking serunya bermain sampai-sampai tidak mengingat
waktu. Haehaeh... maklum. Waktu itu ku berumur kurang lebih 11 tahun. Waktu
dimana anak seumuran itu sedang asyik-asyik menikmati waktu bermainnya. Tanpa
mengingat kapan waktunya untuk bermain dan waktunya pulang.
Adzan maghrib pun berkumandang,
mengingatkan ku untuk segera pergih ke mushola menunaikan sholat maghrib. Aku
pun bergegas berangkat ke mushola, seakan tidak mau sampai ketinggalan
sholatnya dari imam. Seperti biasanya seusai sholat maghrib aku kemudian berangkat
mengaji bersama teman-teman.
Pada suatu ketika ada suatu
peristiwa di saat aku mengaji bersama teman. Dimana waktu itu kami bikin onar
atau gaduh di dalam ruang mengaji. Sehingga kami semua di marahin oleh pak
ustad atau guru ngajinya. Waktu itu aku dan teman-teman bikin gaduh di ruang
ngaji, karena kami di sambi menunggu giliran maju mengaji. Kami melakukan suatu
permainan. Permainan ini menggunakan jari-jari tangan. Bermainnya biasanya
berjumlah 7 orang pemain. Tetapi tidak membatasi jumblah umur pemain. Namun pada umumnya kebanyakan
yang memainkan permainan ini anak kecil. Permainan ini juga membutuhkan gerak
cepat pemainnya ketika nama yang di usungkan keluar terpilih. Permainan ini
namanya Mejikuhibiniu. Dalam permainan ini ketika nama yang di
usungkannya keluar maka pemenang wajib melakukan suatu tindakan. Dimana tindakan
ini pemenang boleh ngapain saja ke lawan yang kalah. Yang sesuai dengan
perjanjian sebelumnya. Biasanya perjanjian dalam permainaan Mejikuhibiniu ini
yaitu hampir sama juga dengan perainan. Karena lawan yang kalah nanti akan
mendapatkan akibatnya ketika suitnya kalah. Jadi meski sebelumnya pemenang
memenangkan permainan Mejikuibiniu, dan di beri kesempatan melakukan suatu
tindakan, juga lawan di beri kesempatan lagi untuk bersuit. Ketika lawan menang
suitnya, maka pemenang tidak boleh melakukan suatu tindakan kepada orang itu.
Sehingga dapat membuat suatu kegaduhan yang sangat mengganggu.
Karena pada waktu memainkan
permainan itu di saat sedang mengaji, sehingga kami semua di marahin oleh guru
ngajinya.
Sebenarnya permainan itu di lakukan
jangan di waktu yang sedang serius, seperti waktu mengaji. Karena bisa
mengganggu suasananya. Karena pada dasarnya permainan ini hanya untuk
seru-seruan, menghilangkan rasa bosan dan kejenuhan. Yang membuat kita tertawa
dan bersuara kencang. Sehingga tidak tepat waktunya jika sedang serius, malah
memainkan permainan ini.
Tidak di rasa mengajipun telah
selesai. Kini ku waktunya pulang ke rumah. Karena pada zaman dulu masih jarang
ada tv. Setelah pulang mengajipun aku langsung bergegasnya menggantkan buku
mata pelajaran buat besoknya. Mungkin sudah jadi kebiasaanku dahulu ketika
belajar sambil tiduran. Sehingga aku belajar hingga tidu dengan sendirinya.
Kini semua itu telah berlalu menjadi
kenangan masa lalu. Yang mustahil terulang kembali di kemudian hari. Tinggal
bayang-bayang senyuman ketika kita memainkannya. Tergerusnya waktu yang
berlalu. Menyisakan suatu kenangan terindah ketika bersama. Kenangan akan
kangennya melakukan suatu permainan barsama-sama. Kangen akan suatu permainaan
tradisional yang dulu kita mainkan.
Namun karena tergerusnya zaman
digital semua itu kian terlupakan. Dulu kita kecil memainkan dengan penuh
semangat, penuh dengan kegembiraan, Kini telah terlupakan. Karena zaman modern
yang terus di depan. Terus merangsak meninggalkan masa lampau. Tapi sayang majunya
zaman tidak di barengi oleh di junjungnya permainan tradisional.
Yang dulunya anak kecil atau orang dahulu bermain permainan tradisional seperti ; - Kelereng, - Kasti, - Slodor, -
Mejikuhibiniu, - Gim-giman, - Petak umpet, - Sawah-sawahan, - Mono poli/ular
tangga, - Benteng-bentengan, - Blantongan,
- Kucing sarungan, - Gajah baruan, - Yeyean, - Kyu-kyuan, -Gaburan [ kartu bergambar ], - Soteng-sotengan,
- Ribok-ribokan, - Jangka, - Mobil-mobilan dari Kayu, Tanah liat, dan Bambu, -
Bakpia, - Enggrang, - Balap gendong, dan sebagainya.
Kini di tinggal sudah olehnya, beralih ke permainan yang
modern. Seperti halnya ; COCan, Plastation. Pokemon Go, Dindong, dan permainan
On Line lainnya. Sungguh malang nasib permainan tradisional. Yang tertinggal
Haya oleh permainan seperti itu.
Kangen akan semua permainan tradisional. Permainan yang
dulu menemani hari kecilku. Kini entah dimana kau berada, bagaimana kabarmu,
siapa yang masih memainkanmu, mungkin hanya ada segelintir orang dari seratus
orang yang masih memainkanmu. Tapi itupun entah ku tidak tau.
Mari kita sama-sama terus melestarikan indahnya, serunya,
bahagianya kita ketika memainkan permainan tradisional ini. Permainan asli
Tanah Air kita, asli dari Negeri kita, Negeri Indonesia Tercinta.
SELESAI…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar