Tiada kata yang indah Selain kata syukur, Maka syukurilah apa yang ada, karena syukur merupakan salah satu bentuk menikmati pemberian tuhan, Pemberian Tuhan lebih baik dari yang lain, Serta tabahkan hati kita dalam menghadapi berbagai cobaan, By; Irfan Efendy

Kamis, 13 Oktober 2016

" Bagaimana Kabarmu Permaenan Tradisional " Permaenan Yang Dulu Menemani Kecilnya Kita...

“  Bagaimana Kabarmu Permainan Tradisional “

            Ketika kita kecil dulu tak luput dengan kata bermaen. Masih teringat jelas ketika kita berkumpul bersama dengan teman-teman. Dalam canda gurau menghilangkan rasa kesepian bersama. Kita terbahak-bahak melepas rasa gunda yang terkadang terselip di hati kita. Dengan berkumpul bersama kita melakukan suatu hal yang bisa kita maenkan bersama-sama.
            Pada suatu ketika ku bangun di pagi hari. Pagi tiada berarti jika tak bersyukur kembali kepada sang ilahi. Pagi dimana ku beraktifitas kembali bersama teman-teman di sekolahan. Pada saptu pagi ini ku bergegas beranjak dari tempat tidurku. Karena sang  mentari pun sudah memancarkan dan menyinari hari pekan ku. Bergegas ku mandi menyegarkan tubuh kembali agar semangat beraktifitas di sekolah nanti.
            Waktu berjalan terasa begituh cepat. Beel sekolah pun berbunyi. Pertanda waktunya belajar di mulai.  Pukul 07 : 25, itu lah ku mulai mengikuti pelajaran dalam ruang kelas bersama teman-teman.  Waktu berlalu membawa tingginya mentari dimana waktunya istirahat berjumpa menghampiri kami. Aku dan teman-temanku biasa memanfaatkan waktu istirahtnya dengan bermaen-maen.
            Ketika itu dalam lingkungan sekolahku SD N SONGGOM 6 sedang musim permaean mobil tamia dari selembar kertas buku catatan. Pada waktu itu ku membuatnya dengan kreasi yang unik, tentunya agar beda dengan karya teman-teman lainnya. Ku membuat dengan melipat sana melipat sini, hingga terbentuklah mobil-mobilan tamia itu. Aku dan teman memaenkannya dengan cara meniupnya. Karena pada dasarnya permaenan ini tidak mempunyai roda apa lagi system penggerak. Permaenan ini aku maenkan dengan beragam jenis maennya. Yang pertama kami memaenkanya dengan balapan atau sering kita sebut Damonan tamia. Damonan tamia ini, kita memaenkannya mengadu kecepatan kita dalam meniupkan mobil tamia ini. Dimana siapa yang mobil tamia nya tertiup paling jauh atau melewati batas finis itu yang memenangkan permaenannya. Kedua kita memaenkannya denga cara mengadu atau menabrakkan kepada mobil tamia lawannya ini sering kita sebut dengan Benturan tamia. Benturan tamia ini cara memaenkannya tidak jauh berbeda dengan Damonan tamia. Sebab masih sama-sama kita tiup memaenkannya. Namun Benturan tamia ini mengadu mobil-mobilan untuk menabrakkan ke lawannya dan siapa yang terbalik itu yang kalah. Yang terahir atau ketiga yaitu dengan cara mengadu untuk bisa melontar atau meloncat dan posisi mendarat tidak terbalik. Permaenan ini sering kita sebut Maburan tamia. Maburan tamia ini kita memaenkanya dengan meniupkan tamia agar terdorong kedepan dan melewati lintasan menanjak, sering kita menggunakan lintasannya dengan buku tulis yang di topang penghapus papan tulis di bagian bawahnya. Dimana agar mobil tamia itu bisa melontar meloncat jauh kedepan.
            Haehaeh….  Cukup mudah dan sederhanakan permaenan mobil-mobilan tamia ini. Tentunya dapat menghibur kita di waktu luang di lingkungan sekolah. Dan yang pasti dapat menghilangkan kejenuhan dalam beban tugas dari guru serta menjadikan hubungan persaudaraan dengan teman menjadi semakin kuat dan tidak akan terlupakan dalam hidup kita. Terutama pada masa-masa sekolah kita bersama teman.
            Tidak di rasa beel pun berbunyi kembali, pertanda masuk pelajaran di mulai lagi. Kini berganti mata pelajaran berbeda dengan tadi pagi. Seni budaya, itulah yang kini pak guru ajarin ke kami. Di dalam mata pelajaran Seni Budaya kali ini pak guru membahas tentang berakenaragam jenis permaenan tradisional. Dimana permaenan ini sejak dulu zamannya pak guru kecil pun sudah ada. Sama seperti aku dan teman-teman sampai sekarang masih memaenkannya. Ada berakenaragam jenis permaenan yang di bahas dalam pelajaran ini. Yaitu Enggrang, Congklak / Sawah-sawahan, Kelereng, Kasti, Monopoli / Ular tangga, Mejikuhibiniu, Gim-giman, Dan masih banyak lagi yang lainnya.
            Permaenan – permaenan di atas merupakan beberapa contoh permaenan tradisional. Yang dengan secara tidak langsung sudah ada di daerah Brebes sejak dulu. Sehingga pak guru pun menerangkan permaenan itu bisa dengan rinci. Tentang bagai mana cara-cara memaenkannya.
            Tidak terasa waktu belajar di lingkungan sekolah telah usai. Dan kini semuanya pada pulang kembali ke rumah masing-masing, terutama aku. Aku pulang kerumah dengan gembiranya. Berlarian sembari memanggil-manggil nenek / mbok’e { sebutan di kampung ku }. “ Mbok’eee,,,,,     Mbok’eee,,,,,     Mbok’eee,,,,, “. Meski rumah tempat tinggal ku dekat dari sekolahan. Tetapi aku selalu bersemangat untuk pulang kerumah. “ Ada apa nak,,, jangan berlarian seperti itu, nanti jatuh  “. Dari kejauhan Mbok’e manyaut panggilan ku dan menasehati ku untuk jangan berlarian ketika pulang, karena nanti bisa terjatuh. “ ini Mbok’e mobil-mobilan tamia irfan, baguskan Mbok’e. tadi disekolahan aku menang luuh Mbok’e,,, bisa ngalahin punya teman – teman “. Dengan senang dan bangganya aku nunjukin karya mobil tamia ku yang terbuat dari kertas ke Mbok’e. Kenapah ku memanggilnya Mbok’e, ketika pulang sekolah.? Kenapa tidak ibu yang aku panggil.?
            Semenjak aku sekolah SD aku di tinggal sendirian di kampung oleh Ibu dan Bapak. Kedua orang tua ku tinggal di Jakarta mencari uang buat biayai aku sekolah dan makan sehari-hari. Hampir 4 tahun aku hidup berduaan bersama nenek di kampung. Aku jalani dengan penuh kemandirian. Dimana ketika hari libur tiba aku membantu nenek di kebun, Mencuci pakaian sendiri, bahkan mencari kayu bakar di hutan untuk memasak di pawon / tungku. Karena ku jauh dari orang tua, itulah yang memaksakan ku harus bisa hidup mandiri. Menyelesaikan segalanya sendiri. Hingga membantu nenek sebisa mungkin. Karena nenek juga sudah tidak sekuat dulu lagi tenaganya untuk bekerja terlalu lama. Itulah alasan ku memangil – manggil nenek ketika pulanng sekolah. Selain sudah terbiasa menyebut nenek, karena semenjak kecil pula aku hidup bersama nenek, dan lama tidak menyebut Ibu atau Ayah. Sehingga sudah terbiasa menyebut nenek.
            Namun aku juga tidak sepenuhnya menghabiskan waktu liburnya atau senggangnya untuk bekerja atau membantu nenek. Terkadang ketika selesai membantu pekerjaan nenek. Aku biasanya langsung pergi bermain dengan teman-teman. Menghabiskan waktu bersama teman dengan bermain. Ketika bermain bersama teman-teman biasanya kami memaenkan permaenan tradisional. Dimana permaenan tradisional ini sejak dulu sudah ada. Dan sudah menjadi suatu permaenan yang di gemari anak-anak. Karena selain seru permaenannya. Di situh juga kita bisa semakin memper erat persahabtannya. Permaenan ini membutuhkan banyak orang untuk menjalankannya. Kurang lebih 10 orang. Sepuluh orang di bagi menjadi dua Tim. Jadi satu tim beranggotakan 5 orang. Mempermaenkannya juga membutuhkan tempat halaman yang laus, Kisaran 5x7,5 m persegi. Permaenan ini biasa kami sebut Slodor. Permaenan slodor ini kata nenek merupakan permaenan tradisional khas Brebes. Karena sejak dahulu nenek kecil pun permaenan ini sudah ada. Dan sudah menjadi permaenan favorit bagi anak-anak. Meski orang dewasa juga bisa melakukan permaenan ini. Karena pada dasarnya permaenan slodor ini tidak mengenal usia. Asal masih sanggunp dan kuat untuk bergerak menangkap lawannya. Itu masih di perbolehkan, tidak ada  yang melarang selain keinginan diri sendiri untuk berhenti bermain.
            Kami bermain permainan slodor biasanya di waktu menjelang sore. Ketika suasananya sudah tidak terlalu panas. Karena bermaennya di tengah-tengah halaman rumah yang luas. Bermain slodor sangat seru dan bikin terus tertawa. Hingga tidak mengenal waktu. Meski sesudahnya sangat melelahkan, namun dapat menghibur dan jadi hiburan bagi yang menontonnya. Permainan ini juga bisa di katakan kita sambil berolahraga dalam bermainnya. Karena dalam bermaennya sangat aktif bergerak meloncat, berlari, menunduk, dan sebagainya. Sehingga dapat banyak menguras tenaga dan keringat. Yang membuat kita terkadang bertindak dengan tidak sengaja dan tidak seharusnya di lakukan karena lelah. Tidak hanya itu, terkadang juga dengan tanpa di sengaja kita melakukan hal yang lucu. Yang dapat membuat kita ketawa terbahak-bahak ketika melihatnya. Sehingga selain sangat seru permainannya, juga menjadi hiburan tersendiri.
            Itulah salah satu permainan yang biasa aku mainkan bersama teman-teman. Ketika pulang sekolah atau waktu senggang di hari libur ku.
            Tanpa di rasa ternyata hari sudah hampir larut malam. Ketika ku bermain dengan teman-teman, ku tidak mengingat waktu untuk pulang. Karena saking serunya bermain sampai-sampai tidak mengingat waktu. Haehaeh... maklum. Waktu itu ku berumur kurang lebih 11 tahun. Waktu dimana anak seumuran itu sedang asyik-asyik menikmati waktu bermainnya. Tanpa mengingat kapan waktunya untuk bermain dan waktunya pulang.
            Adzan maghrib pun berkumandang, mengingatkan ku untuk segera pergih ke mushola menunaikan sholat maghrib. Aku pun bergegas berangkat ke mushola, seakan tidak mau sampai ketinggalan sholatnya dari imam. Seperti biasanya seusai sholat maghrib aku kemudian berangkat mengaji bersama teman-teman.
            Pada suatu ketika ada suatu peristiwa di saat aku mengaji bersama teman. Dimana waktu itu kami bikin onar atau gaduh di dalam ruang mengaji. Sehingga kami semua di marahin oleh pak ustad atau guru ngajinya. Waktu itu aku dan teman-teman bikin gaduh di ruang ngaji, karena kami di sambi menunggu giliran maju mengaji. Kami melakukan suatu permainan. Permainan ini menggunakan jari-jari tangan. Bermainnya biasanya berjumlah 7 orang pemain. Tetapi tidak membatasi jumblah  umur pemain. Namun pada umumnya kebanyakan yang memainkan permainan ini anak kecil. Permainan ini juga membutuhkan gerak cepat pemainnya ketika nama yang di usungkan keluar terpilih. Permainan ini namanya Mejikuhibiniu. Dalam permainan ini ketika nama yang di usungkannya keluar maka pemenang wajib melakukan suatu tindakan. Dimana tindakan ini pemenang boleh ngapain saja ke lawan yang kalah. Yang sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Biasanya perjanjian dalam permainaan Mejikuhibiniu ini yaitu hampir sama juga dengan perainan. Karena lawan yang kalah nanti akan mendapatkan akibatnya ketika suitnya kalah. Jadi meski sebelumnya pemenang memenangkan permainan Mejikuibiniu, dan di beri kesempatan melakukan suatu tindakan, juga lawan di beri kesempatan lagi untuk bersuit. Ketika lawan menang suitnya, maka pemenang tidak boleh melakukan suatu tindakan kepada orang itu. Sehingga dapat membuat suatu kegaduhan yang sangat mengganggu.
            Karena pada waktu memainkan permainan itu di saat sedang mengaji, sehingga kami semua di marahin oleh guru ngajinya.
            Sebenarnya permainan itu di lakukan jangan di waktu yang sedang serius, seperti waktu mengaji. Karena bisa mengganggu suasananya. Karena pada dasarnya permainan ini hanya untuk seru-seruan, menghilangkan rasa bosan dan kejenuhan. Yang membuat kita tertawa dan bersuara kencang. Sehingga tidak tepat waktunya jika sedang serius, malah memainkan permainan ini.
            Tidak di rasa mengajipun telah selesai. Kini ku waktunya pulang ke rumah. Karena pada zaman dulu masih jarang ada tv. Setelah pulang mengajipun aku langsung bergegasnya menggantkan buku mata pelajaran buat besoknya. Mungkin sudah jadi kebiasaanku dahulu ketika belajar sambil tiduran. Sehingga aku belajar hingga tidu dengan sendirinya.
            Kini semua itu telah berlalu menjadi kenangan masa lalu. Yang mustahil terulang kembali di kemudian hari. Tinggal bayang-bayang senyuman ketika kita memainkannya. Tergerusnya waktu yang berlalu. Menyisakan suatu kenangan terindah ketika bersama. Kenangan akan kangennya melakukan suatu permainan barsama-sama. Kangen akan suatu permainaan tradisional yang dulu kita mainkan.
            Namun karena tergerusnya zaman digital semua itu kian terlupakan. Dulu kita kecil memainkan dengan penuh semangat, penuh dengan kegembiraan, Kini telah terlupakan. Karena zaman modern yang terus di depan. Terus merangsak meninggalkan masa lampau. Tapi sayang majunya zaman tidak di barengi oleh di junjungnya permainan tradisional.
            Yang dulunya anak kecil atau orang  dahulu  bermain permainan tradisional seperti ;  - Kelereng, - Kasti, - Slodor, - Mejikuhibiniu, - Gim-giman, - Petak umpet, - Sawah-sawahan, - Mono poli/ular tangga,  - Benteng-bentengan, - Blantongan, - Kucing sarungan, - Gajah baruan, - Yeyean, - Kyu-kyuan,  -Gaburan [ kartu bergambar ], - Soteng-sotengan, - Ribok-ribokan, - Jangka, - Mobil-mobilan dari Kayu, Tanah liat, dan Bambu, - Bakpia, - Enggrang, - Balap gendong, dan sebagainya.
            Kini di tinggal sudah olehnya, beralih ke permainan yang modern. Seperti halnya ; COCan, Plastation. Pokemon Go, Dindong, dan permainan On Line lainnya. Sungguh malang nasib permainan tradisional. Yang tertinggal Haya oleh permainan seperti itu.
            Kangen akan semua permainan tradisional. Permainan yang dulu menemani hari kecilku. Kini entah dimana kau berada, bagaimana kabarmu, siapa yang masih memainkanmu, mungkin hanya ada segelintir orang dari seratus orang yang masih memainkanmu. Tapi itupun entah ku tidak tau.
            Mari kita sama-sama terus melestarikan indahnya, serunya, bahagianya kita ketika memainkan permainan tradisional ini. Permainan asli Tanah Air kita, asli dari Negeri kita, Negeri  Indonesia Tercinta.
SELESAI…


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar